Peran Keluarga Belum Tergantikan oleh Media Sosial (Resume Film Jihad Selfie)

 

Pola Baru Dalam Merekrut Terorisme Melalui Jejaring Sosial
Pola Baru Dalam Merekrut Terorisme Melalui Jejaring Sosial

Progrev.org. Saat ini media sosial sangat rentan menggantikan posisi keluarga terutama peran orangtua dalam proses perkembangan anak. Tidak sedikit orangtua merasa gentar menghadapi pengaruh dunia maya terhadap perkembangan anak mereka. Media sosial dengan ragam informasi sekejap sungguh memikat perhatian anak muda. Sepertinya media sosial adalah tempat yang cocok menghabiskan waktu.

Apalagi bagi anak muda yang ingin terlihat eksis. Mulai dari hal remeh hingga serius, media sosial sumber paling cepat dan lengkap. Percobaan bom bunuh diri tahun lalu, Agustus 2016 di rumah ibadah Santo Yosep, media sosial adalah sumber utama oleh pelaku dalam merakit bom yang akan dia ledakkan.

Indonesia saat ini menduduki pengguna facebook terbesar ke empat. Bagi kelompok radikal media sosial seperti jalan mulus merekrut anak muda. Sejak tahun 2014 sampai dengan sekarang terdata 500 orang Indonesia hijrah ke Syria bergabung dengan ISIS. Diantaranya mereka direkrut melalui media sosial.

Film Jihad Selfie yang disutradarai Noor Huda Ismail bertemu dengan Akbar Maulana dan memiliki pengalaman serupa, rasa kekhawatirannya semakin menjadi memikirkan nasib generasi muda. Anak muda yang sedang mengalami masa transisi, mencari jati diri, ingin terlihat eksis, dibarengi rasa penasaran tinggi, dan membuka kenyataan serta mengingatkan bahwa Kelompok radikal siaga mempengaruhi melalui media sosial.

Film dokumenter Jihad Selfie direkam di berbagai daerah di Indonesia dan beberapa negara seperti Turki dan Australia. Pertemuan dengan beberapa tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang melengkapi cerita, Junaedi mantan anggota ISIS, Aman Abdurahman  di penjara Nusakambangan dan beberapa tokoh lainnya. Akbar kerap muncul dalam layar menceritakan pengalamannya hampir saja mengikuti jejak ISIS.

Dia bertemu dengan Noor Huda Ismail secara tidak sengaja di salah satu kedai kebab di Turki. Akbar saat itu menempuh pendidikan di Katib High School di Turki melalui beasiswa dari pemerintah Turki. Tentang bagaimana Akbar hampir bergabung dengan kelompok ISIS, akbar bertemu profil Wildan Mukhalak melalui facebook. Halaman profil Wildan begitu memikat hati dengan pakaian dan senjata yang dia pegang. Dia terlihat keren dan Wildan berjihad dengan melakukan bom bunuh diri di Irak.

Dalam waktu bersamaan, Akbar mengenal seorang teman asrama di sekolahnya di Turki juga pergi ke Suriah melakukan jihad, Yazid. Kedua hal ini membuat dia terpikat ingin terlibat. Meski media sosial bukan satu-satunya cara yang digunakan untuk merekrut anggota, media sosial tetap cara paling cepat dan mudah dilakukan.

Disinilah peran keluarga (orangtua) sangat dibutuhkan dalam mendampingi anak. Kasih orangtua selalu punya tempat di hati anak-anak yang tidak lekang oleh suasana, jarak, waktu. Tidak ada yang salah dengan media sosial. Hanya, anak harus diajara berpikir kritis, terbuka, dan empati dalam bermedia sosial.

Film parenting

Meski banyak mengupas pola-pola perekrutan dan gerakan radikalisme di Indonesia dan luar negeri, menurut Noor Huda Ismail, film jihad selfie karyanya ini bukan film tentang gerakan radikal, tapi baginya film ini lebih mengusung isu pengasuhan anak atau parenting.

Sebagai orang yang banyak mengikuti isu gerakan radikal dan terorisme, Noor Huda sudah hafal sekali dengan pola-pola berbagai kejadian terorisme di Indonesia yang selalu dilakukan oleh para pemain yang sama. Dan dulu butuh proses dan waktu yang lama untuk bisa masuk ke jaringan teroris.

Tapi sekarang situasinya berbeda, ISIS merekrut anak-anak yang sebelumnya tidak pernah bersinggungan dengan gerakan-gerakan radikal. Mereka hanya remaja biasa, remaja gaul yang gemar main di internet dan tanpa sadar akhirnya mereka di doktrin untuk ikut berperang atau melakukan kekerasan atas nama jihad.

Isu terorisme sekarang ini telah mengalami pergeseran, ini bukan lagi menjadi isu keamanan saja tapi juga menjadi isu sosial.
Menyikapi hal ini, Noor Huda Ismail melihat peran keluarga amat penting dalam mencegah penyebaran paham radikal tersebut.

Dia membuat film ini karena ingin memberitahu kalau sangat penting orang tua memiliki hubungan yang erat dengan anak. Karena hal itulah yang akhirnya menyelamatkan anak remaja seperti Akbar mengurungkan niatnya pergi ke Suriah. Dia juga melihat Akbar memiliki hubungan dan komunikasi yang baik dengan orang tuanya, berbeda dengan dua sahabatnya yang ikut bergabung dengan ISIS, mereka memiliki latar belakang keluarga yang tidak harmonis seperti ayah dan ibunya bercerai dan lain-lain. Jadi Dia melihat bonding ini sangat penting, begitu juga dengan pendidikan terutama cara berpikir kritis.

Bonding atau keakraban jalinan kebatinan yang kuat antara anak dengan orang tua ini menurut Noor Huda Ismail amat penting dalam membentengi anak-anak dari gencarnya doktrinasi paham radikal di internet.

Tren digital memang sudah pasti tidak akan bisa dibendung, tapi kita tetap yakin manusia tetap manusia. Hubungan antara orang tua dan anak atau bonding itu tidak akan tergantikan dan terkalahkan. Oleh karena itu kita harus dorong agar ada komunikasi yang lebih baik antara orang tua dan anak dan orang tua harus menantang anak untuk berpikir kritis. Jangan mau begitu saja menerima informasi yang dicekoki orang di media social, tapi harus dikritisi dan kita harus mengubah ini melalui pendidikan.

Salah seorang penonton yang hadir membawa putrinya yang juga masih ABG mengatakan film ini harus ditonton oleh para orang tua yang memiliki ABG. Ternyata yang banyak bergabung dengan ISIS adalah mereka yang terhitung masih ABG, anak muda yang masih galau dan gaul serta tidak semua anak pesantren. Dan banyak juga dari mereka yang tidak mikir soal agama, tapi cuma mau keliatan keren dan gagah saja, sesuatu yang ABG banget. Dia menyarankan untuk para orang tua menonton film ini biar tahu dan waspada.

Noor Huda Ismail mengaku Ia juga akan menindaklanjuti film Jihad Selfie ini dengan membuka call center atau forum yang bisa menjadi wadah berkomunikasi bagi para orang tua dan remaja dalam menyikapi penyebaran paham radikal di kalangan remaja dari internet.

Salam Merah Putih
Salam Satu Indonesia

🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *