Penjajahan Gaya Baru itu Berjalan Senyap (Silent Invasion)

Penjajahan gaya baru itu berjalan senyap (Silent Invasion)
Penjajahan gaya baru itu berjalan senyap (Silent Invasion)
Progrev.org.Skema penjajahan gaya baru itu berjalan senyap (Silent Invasion) tanpa hingar bingar peluru, tetapi mampu merampas kehidupan bangsa yang dijajah. Boleh dijamin, teritorial sebuah bangsa tidak akan berkurang tetapi gerak kehidupan, segenap pola serta pemikiran rakyat, bahkan kekayaannya tanpa disadari cenderung lari keluar. Lebih unik lagi, bahwa model kolonialisme baru ini justru membuat bangsa yang dijajah malah jatuh cinta kepada sang penjajah.
Tanpa ada pemahaman, kesadaran dan sikap (geo) politik tentang skema penjajahan gaya baru tadi, suatu bangsa, selain tak mampu mengenal siapa lawan/penjajah dan tidak tahu dari titik mana harus (berangkat) berjuang, juga akibat ketidakpahaman tersebut, sebuah bangsa akan cenderung mudah dikendalikan oleh kaum penjajah serta sulit bagi mereka untuk bangkit mempertahankan eksistensi serta survive demi kelangsungan hidup dan kehidupannya.
Tatkala asymmetric warfare mendarat di suatu negara secara fisik, memang seakan-akan bangsa tersebut. masih ada (being) dan nyata (reality), namun sejatinya mereka “tidak berada.” Dengan kata lain, bahwa eksistensi (keberadaan)-nya atau peran yang selayaknya dimainkan (role playing) pada aspek-aspek utama dan urgen karena terkait cita-cita, tujuan dan kepentingan nasional, malah “diserahkan” kepada kaum pendatang.
Penduduk asli asyik menonton berbagai penjarahan sumber daya alam serta penguasaan ekonomi negerinya (berbungkus) atas nama kebijakan politik, investasi asing, pembangunan, dan lain-lain. Inilah yang disebut Absentee of Lord: “Tuan tanah yang tidak berpijak pada tanahnya sendiri.” Tanah air mungkin tinggal airnya saja, tanahnya dikapling-kapling entah oleh siapa. Dan tidak berlebihan, jika kondisi semacam itu bisa dikatakan sebagai “bangsa pecundang di muka bumi.
Bila pola penjajahan atau kolonialisme klasik melalui hard power ialah menghancurkan, menduduki hal-hal terbuka lalu menjarah sumber daya ekonomi (dan alam) negara-negara koloni, maka skema penjajahan gaya baru berpola asymmetric war
sangat berbeda, ia bisa langsung menukik (menyerang) ke wilayah jantung–sistem negara– tanpa letusan peluru namun memiliki daya hancur tinggi terhadap suatu bangsa.
Dan uniknya pula, mayoritas warga bangsa bahkan para elit politik serta pengambil keputusan di negara tersebut seringkali malah larut dalam skema kolonialisme. Retorikanya, “Sesungguhnya mereka tidak menyadari ada penjajahan baru berpola nirmiliter terhadap kedaulatan bangsanya, atau justru mereka bagian dari skema penjajahan itu tersebut?

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *