Paradigma Perang Masa Depan

Perang Generasi Keempat, Mengubah Paradigma Perang
Perang Generasi Keempat, Mengubah Paradigma Perang
“Progrev.org. Seiring dengan perkembangan lingkungan strategis global yang demikian dinamis, dewasa ini kita berada pada rentang perspektif dalam kisaran beberapa isu strategis, yakni energy security, terrorism, global warming, food crisis, global financial crisis, weapon mass destruction, regional conflicts dan lain-lain. Isu strategis ini semakin memperjelas desire oleh state dan non-state actors untuk mempertahankan dan merebut posisi sebagai “dominan actor” dalam konteks global, “dominan actor” dalam konteks penguasaan regional tertentu, dan bahkan “dominan actor” pada sektor kehidupan tertentu seperti sektor ekonomi, sektor transportasi dan bahkan industri militer”
Keinginan untuk menjadi pemain utama tersebut secara alamiah melahirkan dan bahkan menyuburkan perkembangan ancaman yang tidak lagi terbatas pada traditional threat, tetapi telah berkembang menjadi non-traditional threat, termasuk di dalamnya lahirnya Cyber Threat. Perkembangan ilmu pengetahuan yang pada satu sisi berdampak positif pada peradaban manusia, juga menghadirkan sisi negatif yaitu adanya pemanfaatan perkembangan ilmu pengetahuan untuk mengembangkan teknologi perang jenis baru yang berdampak cukup mengkhawatirkan bagi kelangsungan hidup suatu negara.
Paradigma perang yang mengemuka di berbagai belahan dunia saat ini dan ke depan adalah timbulnya fenomena abstract war atau asymmetric warfare. Perang ini terjadi tanpa mobilisasi pasukan, tanpa perang terbuka namun cukup dengan mengerahkan kemampuan dan kecanggihan teknologi, informasi dan komunikasi yang dimiliki oleh suatu pihak dalam menaklukan pihak lawan. Perang pada masa depan akan cenderung menggunakan keunggulan teknologi, informasi dan komunikasi. Bentuk-bentuk perang tersebut, antara lain : Perang Hibrida (Hybrid Warfare).
Perang hibrida merupakan sebuah strategi militer yang memadukan berbagai aspek dalam peperangan mulai dari pelaku perang (state actor dan non state actor), metode berperang (konvensional dan non konvensional) yang didukung oleh keunggulan teknologi informasi dan komunikasi, termasuk kemampuan siber dan kemampuan nuklir, radiologi, senjata biologi dan kimia. Penggunaan teknologi informasi dalam ancaman hybrid warfare pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan kemampuan politik, intelijen, militer dan sistem persenja-taannya, manajemen, kemampuan siber, publikasi dan komando dan pengendalian. Skenario paling berbahaya yang dapat terjadi adalah muncul-nya ancaman “hybrid’ di Indonesia, yaitu terjadinya berbagai ancaman secara sistematis, bersamaan dan simultan. ‘Network Centric Warfare’ (NCW). Perang di masa yang akan datang akan cenderung berupa ‘Network Centric Warfare’ (NCW) yaitu perang keunggulan teknologi persenjataan, informasi dan komunikasi dalam pengerahan kekuatan di medan pertempuran.
Network centrik adalah sistem komando dan pengendalian operasi militer modern yang mengintegrasikan seluruh komponen atau elemen militer ke dalam satu jaringan berbasis teknologi satelit dan jaringan internet rahasia. Sistem tersebut diyakini dapat memperkuat seluruh komponen yang dilibatkan dalam suatu pertempuran. Penggunaan teknologi, informasi, komunikasi pada sistem tersebut, memungkinkan berbagai komponen yang dikerahkan dalam suatu peperangan yang dapat saling terhubung secara on-line dan real-time, sehingga keberadaan lawan dan kawan dapat diketahui secara pasti.
Berkembangnya sistem komando dan pengendalian berbasis teknologi networks tersebut, biasanya dipadukan dengan penggunaan sistem manajemen pertempuran (Battle Management System), suatu sistem yang menyerupai Networks Centrik System tetapi memiliki cakupan yang lebih kecil (biasanya digunakan pada lingkup antar kecabangan atau dalam satu kesatuan kecabangan tertentu). Selain itu dilengkapi juga dengan teknologi/sistem penginderaan jarak jauh, sistem informasi peta, teknologi ketepatan tembakan (precision fire) dan ketepatan dalam bermanuver (precision manuver), sistem komunikasi dan sistem pengamanannya. ‘Perang berbasis teknologi ‘robotic’ dan ‘nano-technology’. Teknologi di dunia terus berkembang. Teknologi robotik adalah ilmu pengetahuan dalam bidang reka bentuk / output, aplikasi dan kegunaan lainnya. Robotik sering didefinisikan sebagai sebagai cara bagaimana mesin dan robot digabungkan dan melakukan suatu pekerjaan. Pada umumnya robotik meli-puti berbagai bidang teknologi seperti mekanik, elektronik, sistem perangkat keras, kecanggihan komputer dan yang lainnya.
Di masa depan, militer seluruh dunia akan cenderung memanfaatkan teknologi robotik sehingga tercipta tentara super / robot pertempuran yang didesain layaknya seorang manusia, sistem senjata tanpa awak atau pesawat tempur tanpa pilot.
Perang Siber (Cyber Warfare). Perang siber adalah perang yang dilakukan dengan mengerahkan kekuatan, kemampuan dan kecanggihan sistem komputer. Target utama dari serangan siber biasanya adalah sistem data/informasi komputer lawan yang mengatur infrastruktur data/informasi milik lawan. Infrastruktur data / informasi sistem pertahanan suatu negara merupakan aset yang tidak ternilai dan menjadi obyek yang vital. Setiap pihak akan cenderung untuk melindungi aset infrastruktur data / informasi yang dimiliki (cyber defense). Berbagai pihak akan melakukan pertimbangan bahwa keberhasilan suatu tugas militer sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas data/informasi yang diperlukannya.
Dengan demikian pihak-pihak tersebut akan cenderung melakukan upaya untuk mencari, mengumpulkan, mencuri dan bila perlu melakukan sabotase (merusak, memanipulasi, menghancurkan) infrastruktur data / informasi pihak lain untuk mencapai kepentingannya. Mencermati realitas obyektif di atas, maka suka atau tidak suka, kita harus meyiapkan diri dengan sebaik mungkin agar dapat mengahadapi berbabagi tantangan/ancaman di masa depan. Sebagai suatu bangsa yang berdaulat, eksistensi derajat kedaulatan kita akan dapat dinilai, melalui sejauhmana kemampuan negara kita berhasil mengatasi setiap ancaman yang ada. Sampai sejauhmana kita tidak menggantungkan nasib kepada negara/pihak lain. Dihadapkan pada pergeseran paradigma perang yang demikian kompleks, sekali lagi, kita memang harus mampu menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya, agar tetap bisa eksis dan berdaulat.
Selalu tingkatkan Waspada dimana pun kita berada
🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *