Munculnya Persekusi karena adanya “Bully” (Analisa Fenomena Tindakan Persekusi)

Persekusi karena adanya Bully
Persekusi karena adanya Bully
Progrev.org. Beberapa waktu yang lalu, di tengah masyarakat sering kita lihat dalam media sosial, seperti facebook, twitter, dan instagram, ada sekelompok masyarakat yang giat melakukan persekusi. Mereka melakukan persekusi karena ada pihak-pihak yang telah menyinggungnya lewat status media sosial. Dalam Wikipedia, dijelaskan, persekusi (bahasa Inggris: persecution) adalah perlakuan buruk atau penganiyaan secara sistematis oleh individu atau kelompok terhadap individu atau kelompok lain, khususnya karena suku, agama, atau pandangan politik.
Persekusi adalah salah satu jenis kejahatan kemanusiaan yang didefinisikan di dalam Statuta Roma Mahkamah Pidana Internasional. Timbulnya penderitaan, pelecehan, penahanan, ketakutan, dan berbagai faktor lain dapat menjadi indikator munculnya persekusi, tetapi hanya penderitaan yang cukup berat yang dapat dikelompokkan sebagai persekusi.
Inti dari definisi itu bisa jadi seseorang atau sekelompok masyarakat yang main hakim sendiri kepada seseorang yang dituduh melakukan tindakan salah secara sepihak tanpa melalui proses pengadilan.
Sebab tindakan persekusi massif dilakukan maka muncullah penentangan-penentangan hingga muncul gerakan melawan yang disebut dengan Koalisi Antipersekusi.
Koalisi ini memberi nomor kontak, telepon dan email kepada masyarakat bila melihat atau mengalami persekusi. Sebab persekusi sudah menjadi isu nasional maka aparat keamanan sudah melakukan tindakan kepada persekutor. Tindakan menghentikan persekusi, antipersekusi, merupakan tindakan yang bisa diberi apresiasi. Ini dilakukan agar salah satu pihak tidak melakukan tindakan sewenang-wenang dalam menghakimi pihak lain.
Dengan menghentikan dan mencegah persekusi maka secara langsung kita menegakan hukum yang ada. Namun tidak adil di satu sisi kita tegas dalam melakukan tindakan antipersekusi namun membiarkan pihak lain mengumbar caci maki kepada orang-orang lain. Antara persekusi yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan pembiaran orang mem-bully atau melecehkan pihak lain merupakan faktor sebab-akibat.
Persekusi tidak mungkin terjadi bila tidak ada yang merasa dilecehkan atau direndahkan. Dalam bermedia sosial, masyarakat entah sadar atau tidak, sering mengunggah status-status dirinya. Problem unggahan status dalam media sosial yang menimbulkan masalah, sebenarnya bukan minggu-minggu ini terjadi.
Sejak media sosial bebas digunakan oleh masyarakat, orang secara sadar atau tidak menulis status perasaannya ke dalam ruang publik. Akibat yang demikian maka ruang media sosial menjadi seperti tempat curhat, keluh kesah, dan menumpahkan amarah. Dulu curhat lewat media sosial, suasana yang terjadi tidak segaduh saat ini.
Dulu problem curhatan terjadi hanya satu orang dengan orang yang lain, seperti antara siswa yang mencaci maki guru. Dari person ke person ini membuat masalah yang terjadi tidak melebar. Sebab masalahnya hanya ada dua orang maka problem yang terjadi cepat diselesaikan.
Namun sekarang dalam suasana dinamika politik, terutama selepas Pilpres 2014 dan saat Pilkada Jakarta 2017, curhatan yang terjadi mengakibatkan dua kubu saling berhadapan. Dari sinilah maka bila ada yang seseorang yang mencaci maki kepada pihak yang lain, maka orang itu akan berhadapan dengan komunitas besar sebuah kelompok. Akibatnya satu orang akan dihadapi secara massal.
Problem satu orang sekarang bisa menyeret pihak-pihak lain ikut terlibat hanya gara-gara mem-bully. Lihat saja di Koalisi Antipersekusi ada beberapa organisasi yang terhimpun. Koalisi itu pasti akan berhadapan dengan organisasi-organisasi yang menempuh cara-cara persekusi.
Saling serang antara dua kubu ini bila dibiarkan akan bisa membuat konflik di tengah masyarakat. Persekusi dihadapi dengan antipersekusi jelas sebuah tindakan yang tidak bijak, tak menyelesaikan masalah. Sebab sepertinya dalam masalah ini, antarkelompok masyarakat saling menantang.
Untuk mencari penyelesaian agar tidak terjadi persekusi dilawan dengan persekusi maka perlu dicari akar masalahnya. Kalau diamati, akar masalah dalam persekusi ini adalah :
pertama, kecerobohan beberapa orang dalam menggunakan media massa, media sosial, secara liar dan tidak bertanggungjawab. Secara liar orang menggunakan kata-kata kasar seperti kata bodoh, nama-nama hewan, dan organ-organ vital manusia dalam status media sosial.
Kata-kata itu ditujukan kepada pihak lain dengan secara tidak bertanggungjawab. Tidak bertanggungjawab maksudnya adalah ketika orang itu belum benar-benar terbukti bersalah atau melakukan kesalahan sudah dihakimi dengan kata-kata yang tak pantas dan tak etis itu. Dalam kata-kata tak pantas dan tak bertanggungjawab, semuanya harus sepakat melawan kalau kita tidak ingin persekusi dan antipersekusi terjadi.
Sebab selama ini karena masyarakat mempunyai keberpihakan maka kata-kata yang tak pantas dan tak bertanggungjawab tadi menjadi subjektif. Akibatnya membuat kata-kata tak pantas dan ketidakbertanggungjawaban menjadi boleh di satu pihak dan tidak boleh di pihak yang lain. Jadi di sini masyarakat sendirilah yang menyediakan ruang saling singgung yang bisa menyebabkan terjadinya persekusi dan antipersekusi.
Kedua, munculnya persekusi dan antipersekusi disebabkan oleh ketidaktegasan dan kelambanan aparat dalam menegakkan hukum. Masyarakat bergerak sendiri dalam menyelesaikan masalah lebih disebabkan karena dirasa aparat lambat dalam menyikapi masalah yang ada. Masyarakat merasa permasalahan yang ada tidak mungkin ditangani maka membuat mereka bergerak sendiri.
Nah di sinilah maka perlunya kesigapan aparat dalam menyikapi masalah-masalah yang ada. Bila ada potensi konflik antarmasyarakat sekecil apapun maka seharusnya aparat keamanan langsung melakukan tindakan preventif dan kuratif secara serentak. Kalau kita amati, sepertinya aparat tidak pernah melakukan tindakan preventif kepada pihak-pihak yang sepertinya mempunyai indikasi melakukan persekusi. Akibatnya persekusi selama beberapa minggu terjadi.
Untuk itulah bila tidak ingin persekusi dan antipersekusi semakin berhadap-hadapan maka perlu kesadaran semuanya, perlunya menahan diri bagi pengguna media sosial dalam mengunggah status dan perlunya ketegasan dan kecepatan aparat bila melihat adanya indikasi terjadinya pelanggaran UU ITE sekecil apapun.
Selalu tingkatkan Waspada dimana pun kita berada.
Saling menjaga kerukunan Bhineka tunggal Ika
Salam Merah Putih
Salam Satu Indonesia
๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *