Mewaspadai Perubahan Pola Aksi Teror / Lone wolf Attack (Analisa Serangan di Polres Banyumas)

Perubahan Pola Aksi Teror (Lone wolf Attack)
Perubahan Pola Aksi Teror (Lone wolf Attack)
Sekitar pukul 10.00 WIB pada Selasa, 11 April 2017, seorang pengendara motor yang kemudian diidentifikasi bernama Muhammad Ibnu Dar/MID (22 tahun), memacu motornya dengan kecepatan tinggi menerobos masuk gerbang depan Mapolres Banyumas, dan langsung menabrak seorang anggota polisi, Aipda Ata Suparta.
Setelah itu, pelaku turun dari motornya lalu berlari. Seorang anggota polisi lainnya bernama Brigadir Irfan berusaha mencegatnya. Saat itulah, MID mengeluarkan parang dan berusaha membacok anggota polisi yang menghalang-halanginya, dan sempat melukai tangan kiri Irfan. Sejumlah laporan awal menyebutkan, MID adalah warga Desa Karangaren, Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga, Jateng.
Ketika melakukan aksinya, pelaku mengenakan kemeja, celana hitam, dan syal atau selendang bergambar lambang/logo ISIS. Seorang wartawan yang kebetulan berada di TKP mengatakan, MID menabrak anggota polisi Ata Suparta sambil bertakbir dengan suara keras.
Setidaknya, terdapat empat poin catatan yang mungkin perlu dijadikan bahan kajian serius terkait dengan perubahan pola serangan teror ke depan.
Pertama, modus aksi teror ini di Polres Banyumas mirip dengan aksi teror di dekat gedung parlemen Inggris (24 Maret 2017) atau aksi menabrakkan mobil truk di Stockholm Swedia (07 April 2017). Masing-masing dari tiga serangan itu menggunakan kendaraan bermotor untuk menabrak atau menggilas sasaran. Bahkan kasus Banyumas dan Gedung Parlemen Inggris memiliki persamaan yang persis yaitu membawa parang untuk melukai korbannya.
Kedua, muncul analisis yang mengatakan, perubahan pola atau modus aksi ini juga dipicu oleh faktor lain: semakin sulit mendapatkan bahan untuk membuat bom, dan sebuah aksi teror bom memerlukan pelaku lebih dari satu orang, dan persiapan yang mungkin lebih lama.
Ketiga, serangan Polres Banyumas – juga terhadap Gedung Parlemen Inggris dan Mal di Stockhom – benar-benar dilakukan oleh seorang lone-wolf. Karena aksinya memang tidak memerlukan pelaku tambahan, tidak perlu juga perencanaan yang ribet.
Keempat, serangan tak terduga oleh para terduga teroris bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Ancaman itu akan terus mengintai anggota Polri karena sejumlah kelompok teroris terus memendam amarah dan dendam kepada seluruh jajaran Polri dikarenakan Densus 88 Anti-Teror Mabes Polri terus melakukan penangkapan terhadap terduga teroris dan memperkecil ruang gerak mereka. Hal ini menimbulkan kemarahan dan dendam para terduga teroris yang juga dimungkinkan sanak saudara dari para teroris yang merasa banyak dari saudara-saudara mereka tewas ditembak oleh jajaran Polri, akhirnya merekapun berusaha untuk membalasnya.
Empat poin catatan di atas mengindikasikan satu hal: semakin gampang melakukan aksi teror. Konsekuensi lanjutannya, mungkin akan semakin banyak aksi teror. Sebab setelah berniat dan bertekad melakukan aksinya, seorang pelaku hanya memerlukan kendaraan bermotor (mobil atau motor) dan membawa parang, dan aksi pun dapat terjadi di manapun dan kapanpun.
Selalu tingkatkan Waspada dimana pun kita berada.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *