Mewaspadai Indonesia Jadi Medan Perang ISIS (Analisa Kejadian di Marawi)

Baik ISIS maupun Al Qaidah, dua-duanya kelompok teroris yang tujuannya hanya mengganggu kedamaian dunia dengan dalih mengusung Khilafah.
Baik ISIS maupun Al Qaidah, dua-duanya kelompok teroris yang tujuannya hanya mengganggu kedamaian dunia dengan dalih mengusung Khilafah.
Progrev.org. ISIS meski sedang terdesak di medan perang Irak dan Suriah, kembali menebar teror lewat tiga serangan brutal di tiga tempat berbeda sepanjang Mei 2017. Organisasi teror ini menyerang Eropa lewat bom di konser Dangerous Woman Tour Ariana Grande di Manchester, Inggris, yang menewaskan 20 orang.
Dua serangan lainnya terjadi di Asia Tenggara. Satu berupa bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta, dan satu lainnya serangan teritorial ke Marawi, Mindanao, Filipina.
Serangan ke Marawi menjadi preseden spesial. Selama ini Filipina memang memiliki kelompok teror yang menduduki basis teritorial seperti Abu Sayyaf dan Moro Islamic Liberation Front (MILF) di Filipina Selatan. Namun, serangan ke kota yang selama ini berada dalam situasi damai merupakan gertakan tak biasa.
Terhitung sepekan sejak Selasa (24/5) kota Marawi menjadi ladang pertempuran pasukan Filipina dan kelompok afiliasi ISIS bernama Maute. Perang kota ini mengorbankan sedikitnya 103 nyawa, baik dari pihak berkonflik (tentara-ISIS) maupun warga sipil tak berdosa.
Serangan ke Marawi menarik perhatian khusus bagi Indonesia. Tragedi di lokasi yang tak jauh dari teritorial kedaulatan Indonesia itu membuat otoritas keamanan RI memperketat penjagaan perbatasan untuk menghindari implikasi terburuk.
Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Wiranto, mengungkap kekhawatiran pemerintah akan ada dampak insiden Marawi ke Indonesia. Dengan Kepulauan Sulu basis baru ISIS digempur oleh militer Filipina habis-habisan atas perintah Presiden Duterte, ada kekhawatiran mereka terurai dan masuk ke Indonesia.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengatakan, Asia Tenggara termasuk Indonesia harus bisa membendung kemungkinan terburuk akibat “ekspansi” ISIS. Sekarang ini, dengan terdesaknya mereka (ISIS) di Suriah, sebaran (anggota)nya ke mana-mana, ke negara masing-masing, termasuk di Marawi, pusatnya di Asia Tenggara. Ini jadi medan magnet untuk melaksanakan jihad versi mereka.
Mewaspadai ISIS harus dilakukan dengan kacamata menyeluruh. ISIS tak hanya teror bersenjatakan bom peledak. Organisasi ini juga dikenal dengan operasi militer teritorial. ISIS masih menduduki beberapa wilayah negara Suriah, Irak, Nigeria dengan Boko Haram, dan Libya. Mereka sukses membuat pemerintah setempat kedodoran. Di Asia Tenggara, Filipina telah merasakan bagaimana teror bom dan penculikan muncul bersamaan dengan strategi front militer. Benar-benar merepotkan.
Indonesia sendiri telah menjadi daerah operasi teror ISIS. Sejak akhir 2015, desas-desus keberadaan ISIS di Indonesia meningkat seiring laju tentara Daulah Islam di Irak dan Suriah. Hingga akhirnya senjata ISIS meletus setelah pemerintah melancarkan operasi militer di Poso, Sulawesi Tengah, untuk menangkap kelompok Santoso yang membaiat diri ke Al Baghdadi, pemimpin besar ISIS di Raqqa, Suriah.
Tak lama berselang, Januari 2016, ibu kota diguncang Bom Thamrin, diikuti rangkaian insiden bom panci, sampai Januari 2017 ini bom bunuh diri dengan daya ledak kuat kembali meletus di Kampung Melayu, Jakarta, menewaskan tiga polisi.
Aksi ISIS di Indonesia penuh dengan pengeboman. Organisasi teror ini berjejaring lewat pengelolaan propaganda. Bahrun Naim dan Bahrumsyah menjadi dua nama yang menyemai bibit-bibit radikal di Indonesia. Sekitar 500 WNI terbang menyusup ke wilayah ISIS di Timur Tengah. Sementara yang lain menggenggam paham takfiri –menumpas kelompok yang dianggap kafir– lalu menyerang polisi dengan menggunakan bom bunuh diri.
Peristiwa Marawi mengingatkan bahwa jaringan ISIS bisa saja melakukan pengorganisasian pasukan lalu merebut kota sebagaimana yang mereka cita-citakan lewat Kekhilafahan Islam. Potensi perang teritorial seperti yang terjadi di Timur Tengah adalah skenario terburuk dari aksi ISIS.
Tapi mungkinkah hal tersebut terjadi di Indonesia?
Cara kelompok teror membentuk front teritorial sebenarnya cerita lama di Indonesia. Latihan perang Jamaah Islamiyah di Aceh pada 2010 yang diikuti 50 mujahid adalah contohnya. Hal serupa diupayakan kelompok Santoso di Poso. Namun kedua kelompok bersenjata itu digagalkan oleh operasi gabungan aparat Indonesia.
Indonesia sebenarnya punya pelajaran cukup dari serangan kelompok ISIS di Marawi. Filipina Selatan sudah lama berjalan seperti rogue state atau wilayah anarki tanpa kontrol negara.Soal keamanan domestik, Indonesia memiliki kemungkinan kecil jatuh ke dalam situasi suatu wilayah tiba-tiba dikuasai militan ISIS. Kondisi Indonesia, menurut pakar keamanan berbeda dengan Mindanao yang bergejolak dan diduduki banyak kelompok militan. Strategi teritorial ISIS hanya mungkin terjadi dalam konteks jika situasi lokasi tertentu mengalami turbulensi tinggi.
Pakar keamanan tersebut tetap melihat kecil kemungkinan Indonesia akan mengalami situasi seperti yang terjadi di Marawi, walau Indonesia memiliki banyak catatan aktivitas militan. Meski ada potensi-potensi, sejauh hal itu tidak mampu mengeskalasi, maka kemungkinan bagi mereka untuk membangun front baru di Indonesia, kemungkinan kecil.
Bagaimanapun, kelompok teror Filipina Selatan memang perlu diwaspadai, terlebih karena kedekatan mereka dengan militan Indonesia yang telah berlangsung lama. Ada beberapa wilayah di Indonesia yang komunitasnya memiliki jalur khusus dengan kelompok Filipina Selatan. Selama ini memang ada kalangan militan yang menyambungkan kawasan Filipina Selatan dan Indonesia Timur, terutama di Poso. Militan di Poso menerima kiriman senjata dan amunisi. Bahkan beberapa militan dari Filipina Selatan berpindah ke Poso.
Namun, Poso saat ini merupakan daerah yang relatif aman walaupun masih ada (kelompok teror), kecil dan tidak signifikan. Santoso sudah tertangkap, orang-orang pentingnya sudah tertangkap. Secara umum warga Poso tidak mendukung mereka.
Kemungkinan kecil tersebut bukan berarti tanpa kerentanan. Daerah-daerah yang rawan dan mudah termakan bujuk rayu ISIS biasanya ialah yang mudah membentuk solidaritas konflik.
Oleh sebab itu perlu mewaspadai daerah -daerah tersebut agar mereka tidak dimusuhi, sembari menjaga masyarakat agar jauh dari pemicu turbulensi keamanan.
Radikalisme harus ditanggulangi dengan mencari akar masalahnya, yakni pendidikan dengan mengutamakan toleransi dan pluralisme, serta mempersempit kesenjangan ekonomi di masyarakat.
Selalu tingkatkan Waspada dimana pun kita berada

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *