Mengapa ISIS Mengklaim Bertanggung Jawab atas Teror? (Analisa berbagai Aksi teror yang terjadi)

ISIS Trail Of Terror
ISIS Trail Of Terror
Progrev.org. Zaman sekarang, yang namanya penjahat tidak lagi malu dan menutup diri sebagai penjahat. Justru bangga melakukan kejahatan dan menunjukkan bahwa dia penjahat sesungguhnya. Perkembangan teknologi dan informasi juga membuat penjahat tersebut dengan bangganya menyebar teror kejahatan dengan berbagai cara yang mereka suka.
Setiap aksi teror yang terjadi di sebuah negara sering didapati, media memberitakan bahwa ISIS bertanggung jawab atas aksi teror yang terjadi. Pernyataan seperti itu secara tidak langsung menimbulkan pertanyaan baru, Mengapa ISIS perlu mengklaim aksi itu?
Apakah klaim itu benar-benar mewakili ISIS atau hanya retorika maupun bualan media? Seberapa berartikah klaim itu bagi ISIS? Secara umum, ketika teror terjadi dan ISIS mengaku bertanggung jawab berarti ada pesan politik yang ingin disampaikan oleh gerakan yang dipimpin Abu Bakar Al-Baghdadi tersebut entah itu untuk menunjukkan eksistensi atau ada misi lain dibalik serangan teror.
Eksistensi semakin nyata lantaran ISIS melihat dirinya sebagai sebuah negara dengan memiliki saluran berita yang menjadi media sayapnya yaitu Amaq News Agency, sebuah media yang darinya dapat diketahui bahwa ISIS menyatakan benar-benar bertanggung jawab.
Pengamat dari SITE Intelligence Group menyebut bahwa Amaq  News Agency bertindak layaknya media negara, ISIS juga melihat dirinya sebagai negara yang butuh media seperti itu untuk menunjukkan eksistensinya.
Sementara pengamat dari Al-Masdar News menyatakan bahwa berita Amaq merupakan media yang biasanya memiliki data akurat mengenai ISIS. Selain itu terdapat pula The Nasir Media Foundation yang juga menjadi jaringan resmi ISIS, setiap pernyataan yang muncul datang langsung dari ISIS. Ketika klaim itu muncul, bisa diindikasikan bahwa ISIS memainkan peran disitu.
Ketika ISIS menyatakan tanggung jawab, Amaq biasanya menyertakan publikasi berupa majalah, dari sini banyak media asing mengkutip sebagai sumber utama. Ketika klaim benar-benar ada, mereka akan menerjemahkan ke berbagai bahasa dan menyebarkanya secara online, publik juga lapar dengan berita seperti ini yang memungkinkan persebaran berita begitu cepat.
Wartawan media asing cukup yakin dari berita yang datang dari media ISIS tersebut. karena mereka yakin bahwa ISIS sadar akan peran mengendalikan informasi dan menyebar pesan-pesanya di era globalisasi saat ini. ISIS ternyata juga memiliki radio dan beberapa akun media sosial yang dimanfaatkan sehingga mampu meyakinan para reporter untuk memuat klaim tersebut.
ISIS ingin memberikan informasi yang sebenar-benarnya kepada para pengikutnya di media sosial, untuk itu tidak ada berita bohong mengenai klaim serangan dari ISIS. Karena ini merupakan bagian dari strategi menyebar teror.
Editor The Long Way Journal berpendapat bahwa ada klaim yang salah mengenai serangan teror di Eropa dan Amerika. hal ini dimaksudkan untuk menimbulkan ancaman lain yang belum tentu benar. Serangan di Manchester beberapa waktu lalu misalnya, dikatakan bahwa media di Eropa tampak membesar-besarkan klaim yang dilakukan ISIS.
Hal ini dimaksudkan karena ISIS hanya mengklaim serangan saja, tidak mendetail beserta pelaku dan korban yang dituju. Kesengajaan yang dilakukan ISIS ini tentu ada maunya. Berbagai serangan teror yang terjadi di Eropa juga memiliki pola yang tidak jauh berbeda dengan ini. berbeda dengan serangan diluar Amerika dan Eropa, ISIS tampak lamban dalam melakukan klaim atas serangan teror.
Pengamat menyebut bahwa merupakan sebuah penghargaan bagi para jihadis ISIS yang bersedia melakukan serangan atas komando ISIS atau hanya mengatas namakan ISIS. Militan ISIS yang terlatih memang tampak kuat di basis militer mereka di Irak, akan tetapi perkembangan teknologi memungkinkan ISIS untuk merubah pola serangan agar tertata secara lintas negara.
Serangan serigala tunggal atau lone wolf saat ini tidak lagi liar, akan tetapi terkomunikasi online sesuai prosedur serangan mereka. Kasus seperti penembakan maupun serangan truk yang dianggap sebagai serangan acak, bagi mereka bukan lah serangan tidak terkoordinir, melainkan sudah diagendakan.
Secara umum, ISIS mengklaim sebuah serangan dalam kurun waktu sehari, meskipun kadang kala agak terlambat. Jika ISIS memberikan pernyataan pasca serangan, jika ISIS menyertakan video penyerangan, memberitahu nama pelaku teror, maka itulah serangan terstruktur bagi ISIS.
Adapun sebaliknya, jika klaim tidak segera, tidak ada keterangan jelas mengenai pelaku teror, informasi hanya dari Amaq, bukan dari ISIS langsung, maka dapat dipastikan serangan tersebut tidak disadari langsung oleh ISIS. Nah, pertanyaan selanjutnya yang muncul kemudian, apakah ISIS selalu mengklaim setiap serangan?
Ternyata tidak, karena ada banyak alasan yang seringkali belum jelas, ISIS kadang-kadang tidak akan mengklaim serangan yang ternyata dapat dihubungkan dengan mereka. Itu berarti tidak semua serangan dapat diklaim oleh ISIS, akan tetapi kelompok yang menyatakan terafiliasi darinya melakukan improvisasi.
Pengamat terorisme juga melihat perlunya menelusuri keterangan pelaku aksi teror mulai dari pribadinya, komunikasinya dengan ISIS, hingga propaganda yang berhasil dilakukan untuk memantapkan aksi teror. Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuktikan kebenaran tersebut. namun, adanya jaringan teror yang tersebar memperkuat bahwa klaim ISIS benar-benar rapi disetiap aksi sesuai regionnya.
Yang pasti, setiap serangan yang dikaitkan dengan ISIS bisa jadi benar-benar sesuai komando, inisiatif kelompoknya sendiri, atau terinspirasi dari serangan-serangan sebelumnya.
Selalu tingkatkan Waspada dimana pun kita berada

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *