“Indonesia” Akankah Sama Nasibnya dengan Singapura?

StaysafeProgrev.org –  Sejarah Indonesia meliputi suatu rentang waktu yang sangat panjang yang dimulai sejak zaman prasejarah berdasarkan penemuan “Manusia Jawa” yang berusia 1,7 juta tahun yang lalu. Periode sejarah Indonesia dapat dibagi menjadi lima era seperti Era Prakolonial, munculnya kerajaan-kerajaan Hindu-Budha serta Islam di Jawa dan Sumatera yang terutama mengandalkan perdagangan; Era Kolonial, masuknya orang-orang Eropa (terutama Belanda) yang menginginkan rempah-rempah mengakibatkan penjajahan oleh Belanda selama sekitar 3,5 abad antara awal abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20; Era Kemerdekaan Awal, Pasca-Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (1945) sampai jatuhnya Soekarno (1966); Era Orde Baru, 32 tahun masa pemerintahan Soeharto (1966–1998); serta Orde Reformasi yang berlangsung sampai sekarang.

Sejarah Singapura. Di abad ke 14, Singapura menjadi bagian dari kerajaan besar Sriwijaya, dan dikenal sebagai Temasek (“Kota Laut”). Terletak di titik pertemuan jalur perjalanan laut di ujung Semenanjung Malaya, Singapura telah lama dikunjungi berbagai kapal, mulai dari junk China, kapal dagang India, dhow Arab, kapal-kapal perang Portugis sampai kapal layar Bugis. Selama abad ke 14, pulau kecil namun berlokasi strategis ini mendapat nama baru “Singa Pura” (“Kota Singa”). Menurut legenda, seorang pangeran Sriwijaya yang datang melihat seekor hewan yang ia kira singa, dan lahirlah nama modern Singapura ini (Singapore) dalam bahasa Inggris.

Inggris mengisi bagian penting berikutnya dalam kisah Singapura ini. Selama abad ke 18, mereka melihat perlunya sebuah “rumah singgah” strategis untuk memperbaiki, mengisi bahan makanan, dan melindungi armada kerajaan mereka yang semakin besar, serta untuk menahan kemajuan bangsa Belanda di wilayah ini.
Dengan latar belakang politik seperti inilah Sir Stamford Raffles mendirikan Singapura atau Singapore, sebagai tempat perdagangan. Kebijakan perdagangan bebas berhasil menarik para pedagang dari seluruh penjuru Asia, bahkan dari negeri-negeri jauh seperti Amerika Serikat dan Timur Tengah.

Fakta yang terjadi saat ini

Ketika Singapura merdeka, presiden pertamanya adalah Yusof Ishak dan Perdana Menterinya adalah Lee Kuan Yew. Seperti negara-negara yang sedang berkembang lainnya, Singapura miskin dan kumuh. Pada waktu itu, PM Lee memperkenalkan konsep Meritocracy. Jika Singapura ingin maju, maka hendaknya warga Singapura lebih mengutamakan pemimpin yang cakap tanpa harus melihat latar belakang ras, dan agamanya. Rupanya konsep tersebut diterima masyarakat Singapura. Karena ras Tionghoa dominan dalam ekonomi dan pendidikan, maka warga negara Singapura keturunan Tionghoa lebih dominan di bidang ekonomi maupun pemerintahan. Sebaliknya, ras Melayu semakin pudar perannya.

Bahkan pada sekitar tahun 1975, pemerintah Singapura menghapuskan pelajaran bahasa dan kebudayaan Melayu di sekolah-sekolah Singapura. Bahasa yang diwajibkan pemerintah disekolah adalah bahasa Inggris atau bahasa Mandarin. Dengan demikian, ras Melayu semakin terpojok. Beberapa pengamat melayu, seperti Hamka, mulai mempersoalkan hal ini. Namun, Hamka harus menelan pil pahit karena beliau tidak diperkenankan masuk Singapura.

Kota Singapura tadinya didiami banyak penduduk Melayu. Kediaman penduduk Melayu didapatkan hampir di seluruh Singapura. Namun, pemerintah Singapura kemudian menerapkan pajak tanah yang tinggi sehingga banyak penduduk Melayu yang tak mampu membayar pajak dan terpaksa menjual tanahnya kepada orang yang lebih mampu, yaitu etnis Tionghoa.

Seorang penduduk lama Singapura, keluarga Melayu Jawa yang berhasil membeli tanah cukup luas di jalan 6th Avenue berkat usaha produksi tempe dan tahu, mendapat surat dari pemerintah Singapura bahwa kawasan yang didiaminya akan dijadikan kawasan elite dan persyaratan rumahnya merupakan rumah mewah. Dia harus membangun rumah dengan standar yang telah ditentukan atau menjual tanahnya pada pemerintah atau swasta sehingga dapat dibangun pemukiman mewah yang direncanakan. Untunglah, anak-anaknya mampu membangunkan rumah yang disyaratkan sehingga rumah tersebut menjadi benteng terakhir Melayu di kawasan itu.

Sikap pemerintah Singapura terhadap warga Melayu menjadi perbincangan hangat ketika keluar kebijakan warga Melayu jika masuk menjadi tentara Singapura hanya dapat mencapai pangkat tertentu, karirnya tak dapat diteruskan sampai jabatan puncak. Alasannya, warga Melayu diragukan kesetiaannya terhadap Negara Singapura. Waktu berjalan terus, Singapura yang semula merupakan bagian dari kesultanan Johor Melayu, kini tampil berbeda.

Dengan perkembangan yang sedang dan akan terjadi di Jakarta, banyak yang mempertanyakan apakah Jakarta akan berkembang serupa dengan Singapura???
Konsep Meritocracy telah diamalkan mulai dari kasus Lurah Susan, lelang jabatan, pernyataan Ahok bahwa agama tak perlu dicantumkan di KTP.

Apakah Rekamasi Teluk bermanfaat bagi warga Jakarta? Yang nyata-nyata sudah “dijual” oleh Agung Podomoro di Cina dengan kedok investasi? Atau hanya bermanfaat untuk segelintir orang tertentu?
Apakah Jakarta akan berkembang seperti Singapura yang sebagian besar bisnis kepemilikan gedung dan rumahnya merupakan milik saudara-saudara kita etnis Tionghoa dan warga Jakarta akan terus terpinggirkan?

Secara faktual orang-orang Cina sudah melakukan penjajahan ekonomi bangsa Indonesia. Hal ini tergambar dengan adanya fakta-fakta dibawah ini :

1. Semua mal-mal di setiap kota di Indonesia hampir 100 persen milik orang Cina.
2. Importir barang barang kebutuhan pokok (Beras, Gula, Daging, Kedelai) juga orang Cina.
3. Eksportir hasil bumi keluar negeri adalah orang Cina.
4. Pemilik toko dan tengkulak di desa desa juga orang Cina.
5. Pemilik pabrik pabrik dan pengusaha besar orang Cina.
6. Media cetak dan elektronik (TV) yang besar besar milik orang Cina.
7. Artis dan pembawa acara di televisipun sudah banyak orang Cina.
8. Koruptor kelas kakap yang tertangkap KPK umumnya Cina yang menyuap para pejabat.
9. Menteri dan pengamat politikpun juga sudah mulai bermuculan dari orang Cina seperti Marie Elka Pangestu.
10. Pengemplang BLBI Rp 650 triliun, yang lari ke Singapura juga orang Cina.
11. Daerah – daerah di Jakarta seperti, Jakarta Barat, Jakarta Utara dan sebagian Jakarta Pusat saat ini sudah di kuasai orang Cina, warga pribumi, termasuk Betawi, sudah tersingkir ke daerah daerah Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Depok dan Tanggerang.
12. Perkantoran di gedung gedung mayoritas di Jalan Thamrin, Sudirman, Kuningan, juga miliki Cina dan karyawannyapun Cina.
13. Toko toko Elektronik, onderdil motor dan bengkel, toko Matrial bangunan dan Distributor bahan pokok juga umumnya orang Cina.
14. Banyak warga Cina yang memiliki senjata api.

Tujuan orang-orang Cina di tahun berikutnya sudah mempunyai rencana-rencana dengan dalih pembangunan akan tetapi ini sangat menyengsarakan rakyat Indonesia. Seperti halnya rencana-rencana tersebut sebagai berikut :

1. Mendengar Project New Jakarta, ibarat menempatkan pemindahan ibukota ke luar Jawa hanya menjadi
sekedar wacana hoax belaka. Project New Jakarta 2025, ibarat sebuah project yang sudah disiapkan oleh para Taipan properti berdasarkan pesan China dengan meniru Singapura. Project New Jakarta 2025, adalah project masa depan, menjadikan Jakarta seperti Singapura.

2. Kawan tuips, pernah ingat rencana penggabungan Jabotabek menjadi bagian terintegrasi untuk terwujudnya peta baru Jakarta. Project New Jakarta 2025 adalah melingkupi Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi menjadi satu kesatuan peta baru Jakarta 2025. Wilayah yang saat ini melingkupi Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi pada 2025 akan menjadi wilayah New Jakarta.

3. Lupakan wacana pengalihan, dengan rencana pemindahan ibukota ke luar Jakarta, itu semata taktik menutupi rencana besar New Jakarta 2025, Mari kita bicara, fakta penguasaan oleh para taipan properti dengan memanfaatkan peta New Jakarta 2025 yg sudah disepakati di Tiongkok. New Jakarta 2025, mulai terbaca ketika para taipan serta China conection mati-matian menjadikan Ahok sebagai gubernur DKI, demi 2025. Pada 2025, yang dulunya Jabodetabek akan berubah menjadi New Jakarta Mengapa project ini dirahasiakan?

4. Ketika rakyat disuguhi mimpi dan berbagai wacana pemindahan ibukota, para taipan sibuk membuat peta penguasaan wilayah Jabodetabek. Para taipan sudah berbagai lapak penguasaan wilayah, untuk proses persiapan penyatuan Jabodetabek menjadi New Jakarta 2025. Wilayah Utara Jakarta serta pulau reklamasi hingga pelabuhan New Tanjung Priok perusahaan taipan besar dapat jatah hingga Li Ka Shing. Wilayah Tanggerang Selatan hingga kabupaten Tanggerang, menjadi jatah Sinarmas hingga Lippo Group. Tak beda dengan Tanggerang, di Bekasi pun menjadi wilayah bagi jatah antara Sinarmas, Summarecon Agung dan Lippo Group.

5. Perusahaan properti milik taipan kini telah menghabisi wilayah persawahan di kota Bekasi hingga kabupaten Bekasi. Dari Bekasi hingga perbatasan Karawang dan Bogor (Jonggol) semua kini terkoneksi oleh properti milik taipan, dan Lippo group ambil wilayah Kab Bekasi dengan konsep Meikarta, yang kedepannya menjadi wilayah perbatasan New Jakarta 2025 dengan Jawa barat. Menyambung dari Bogor hingga Tanggerang, menjadikan satu kesatuan sabuk lingkaran yang memutari New Jakarta 2025.

6. Peta New Jakarta 2025, dilingkari oleh properti milik taipan, ibarat melingkar seperti tembok China dari Bekasi, Bogor sampai Tanggerang. Dan untuk kawasan pelabuhan new tanjung Priok nantinya akan dimiliki lebih besar oleh pengusaha Li Ka Shing mirip Singapura. Pribumi cukup disibukkan dengan kue bohongan terkait wacana pemindahan ibukota Agar tidak menganggu mimpi taipan membuat New Jakarta 2025. Ibarat negara dalam negara, New Jakarta 2025 dilingkari tembok properti milik para taipan mirip Tembok Cina (Bekasi, Bogor dan Tangerang).

7. Apakah nanti pribumi terbuang dari wilayah New Jakarta 2025?. Apakah kita telat sadar lagi, bahwa merek sedang bangun negara di dalam negara, New Jakarta 2025 seperit Singapura lalu dibatasi ala Tembok Cina? Ingat kisah warga pribumi Singapura yang tersingkir hingga tinggal di flat-flat (rusun), tak mampu biaya hidup, maka memilih pindah ke Malaysia. Kalau saja kalian sadari, peta properti milik taipan ibarat melingkari peta New Jakarta 2025, mirip Tembok Cina yg membatasi dan membedakan. Pada 2025, kalau anda tak sanggup hidup dengan biaya tinggi di New Jakarta maka opsinya adalah keluar dari wilayahnya. Dan akhirnya, peta New Jakarta 2025 menjadi pembeda mana pribumi dan pendatang yang menguasai akses masuk dan sebagainya.

8. New Jakarta 2025, diawali dengan pembangunan kota kota mandiri (topeng) yang ujung akhirnya terintegrasi menjadi satu kesatuan tembok. Pribumi akan terusir karena dibuat terklasifikasi sendiri, dari warga usiran menjadi warga pinggiran lalu akhirnya warga kebingungan. MEIKARTA hanyalah salahsatu bukti, mimpi New Jakarta 2025 semakin mendekati kenyataan Satu titik poin dari sekian banyak titik poin.

Fakta-fakta diatas adalah gambaran yang bisa dituliskan dengan panjang, dan masih banyak lainnya yang belum dimasukkan, oleh karena itu kepada seluruh warga Negara Indonesia untuk dapat mengetahui dan mencermati serta pemerintah yang mempunyai jiwa Nasionalis agar kejadian-kejadian dan rencana tersebut dapatnya memiliki respon yang tegas, apabila ingin NKRI ini terbebas dari rangkulan Cina sedang menjajah Indonesia yang suatu saat kelak akan memproklamirkan sebagai bagian dari Cina internasional di perantauan.

Kekuatan Cina baru ini akan menyerap semua kemampuan ekonomi rakyat Indonesia dan sumber daya alam yang akan diarahkan ke Cina sebagai sumber alam yang mendukung bangsa Cina menguasai dunia.
Negara Indonesia dan bangsa Indonesia sudah berada di tangan orang-orang Cina. Pemerintahannya sudah tidak berdaya menghadapi ekspansi orang-orang Cina, dan mereka masuk ke dunia politik dengan menunggangi partai politik, Bahkan nanti orang Cina bukan hanya menjadi presiden, tapi gubernur, bupati dan walikota.

Sudah saatnya kita selaku masyarakat Indonesia merubah pola pikir, kenyataan diatas sudah jelas menjadi pengetahuan yang sangat berharga bagi kita sebagai Rakyat Indonesia, kita harus satukan ide, satukan rencana, satukan impian kita untuk merebut kembali perekonomian negara kita, tanpa adanya kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat Indonesia tidak akan bisa bangkit dalam masalah ini, bagaimana nasib anak dan cucu kita nanti?? Siapa yang akan menjamin???

Sumber: Pollindo.com

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *